Lihat Bisnis ABgroup yang lain :

Fitrah Manusia

Ajaran Agama Islam turun dari Allah Swt. dan disesuaikan dengan fitrah manusia. Firman Allah : “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu……….” (QS. Ar Rum : 30).

Fitrah manusia diantaranya adalah:

1). Kebebasan
Selama ini mungkin manusia ada yang menganggap bahwa bahwa Ajaran Agama Islam bagi manusia itu banyaka aturan yang serba terikat dan tidak bebas. Manusia tidak boleh itu, harus begini, harus begitu dan sebagainya. Tidak boleh minum-minuman keras, narkoba, tidak boleh berzinah, tidak boleh membunuh, tidak boleh makan makanan haram, daging babi, anjing, macan, buaya, kadal, biayawak, tikus, dan lain sebagainya. Dan dalam pergaulan pria wanita harus memakai aturan-aturan. Harus shalat, harus puasa, harus zakat, dan lain sebagainya. Singkatnya serba diatur, tidak ada kebebasan dalam ajaran Islam. Benarkah anggapan semacam itu mengikat dan membelenggu kita ? Benarkah gerangan ? Benarkah kesan kita yang demikian itu?
Ok , mari kita renungkan dalam-dalam dan baik-baik, tentang kenikmatan yang telah kita rasakan sealama ini. Diantara kenikmatan yang kita rasakan dalam hidup ini ialah kebebasan. Bukankah pada dasarnya manusia lebih menghargai kebebasan daripada sekedar kehidupan. Allah tidak mengabaikan fitrah manusia, Allah menghargai kebebasan manusia. Firman Allah : “Tidak ada paksaan dalam agama, sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah” (QS. Al Baqarah : 256).

Allah tidak memaksa tetapi menawarkan. Firman Allah : ”Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan menghianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”. (QS. Al Ahzab : 72).
Kedu firman Allah Swt. Tersbut diatas, jelaslah bahwa Allah memperhatikan kebebasan dan kehendak manusia. Allah tidak memaksa tetapi Allah menawarkan terlebih dahulu. Barang siapa yg sanggup memikulnya, maka dialah yang mendapatkan. Islam menghargai dengan penghargaan yang tinggi terhadap siapa yang gugur dijalan Allah (membela kebenaran, membela hak, membela kemerdekaan, dan sebagainya) yang kita kenal dengan syuhada. Sampai-sampai mereka tidak boleh kita katakan mati, tetapi tetap hidup.
”Janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan (sebenarnya) mereka gugur di jalan Allah itu mati, bahkan (sebenarnya) mereka hidup, tetapi kami tidak menyadarinya” (QS. Al Baqarah : 254).

Nah , jika adanya perintah membela diri maka hukum qishash merupakan bukti pula bahwa Islam amat sangat menghargai kebebasan. Firman Allah : ”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishah berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh, orang yg merdeka dengan orang yg merdeka hamba dengan hamba dan wanita dengan wanita………..” (QS. Al Baqarah : 178). (Coy coba ente buka al Qur’an dan lihat ayat2 berikut : Al Baqarah : 179, 194; Al Isra : 33).
Nah , jelas sekarang bahwa ternyata Islam menghargai fitrah manusia berupa kebebasan. Islam menghargai kebebasan. Islam bukanlah suatu aturan yang dipaksakan, tetapi aturan-aturan Islam diciptakan dengan memperhatikan fitrah manusia, antara lain kebebasan. Bahwa kemudian ada perintah dan larangan, itu timbul setelah manusia menyatakan kesanggupan dan perjanjain sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al Ahzab ayat 72. Coba ente buka dan bacalah ayat tsb.

Nah mungkin ada pertanyaan : “Benarkah kita mengadakan perjanjian dan kesanggupan kepada Allah? Bagaimana kalau kita lupa?”. Memang sering lupa kebanyakan orang Islam emang lupa karena tidak tahu karena emoh atau enggan untuk mengetahui tentang perjanjian dan kesanggupan kita kepada Allah. Oleh karena itulah Allah memberikan peringatan kepada manusia. Bagaimana Allah memberikan peringatan kepada manusia ? Itulah AL Qur’an. Al Qur’an diturunkan untuk memberikan peringatan kepada manusia. Al Qur’an bukanlah suatu aturan yang dipaksakan kepada manusia. Al Qur’an bukan pula sesuatu yang tiba-tiba mengikat manusia. Marilah kita perhatikan firman Allah : “Al Qur’an ini hanyalah peringatan bagi semesta alam” (QS. Shaad : 87).

Rasulpun diutus oleh Allah untuk menyampaikan peringata kepada manusia.
“Dan Kami tdaik mengutus kamu melainkan kepada ummat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (QS. Saba’ : 28).
Begitulah kewajiban Rasul menyampaikan peringatan. Dan kewajiban Tuhan adalah membuat perhitungan setelah peringatan itu sampai.“Kewajibanmu hanya menyampaikan, kewajiban-Ku membuat perhitungan”. (S Ar Ra’d :40).
Bahkan perintah dan larangan pun merupakan peringatan “ Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebaikan, memberi kepada kaum kerabat dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dialah pemberi pengajaran kepada kamu agar kamu ingat” (QS. An Hahl : 90).

Peringatan-peringatan Tuhan ini merupakan bukti kasih syang Allah kepada kita. Bayangkan kalau Allah tidak memberi peringatan terlebih dahulu, tetapi langsung menghukum kita yang lalai akan kesanggupan kita itu. Begitulah Allah Yang Maha Pengasih tidak langsung menghukum kita yg lalai, tetapi Dia menyampaikan terlebih dahulu peringatan. Namun, bila kita sudah diingatkan tetap saja bandel, tetap saja mbelelo tidak mau memenuhi kesanggupan kita, tidak mau menempati janji, maka Allah pun telah menyediakan balasannya. Demikian, dari dahulu sampai sekarang ini dan sampai nanti datang hari pertanggung jawaban, manusia bebas. Manusia berhak memilih jalan hidupnya sesuka hati, karena telah jelas mana yg benar dan mana yg salah.

”Dan katakanlah : ’Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barang siapa yg ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa yg ingin (kafir) maka biarlah ia kafir” (QS. Al Kahfi : 29).
Tapi ingat, mana yg kita pilih masing-masing sudah ada balasannya. Kalau kita memilih yang ‘ini’ berarti kita teguh janji (menepati kesanggupan kita dahulu) dan kalau kita memilih yg lain berarti kita khianat. Kesimpulan yg dapat diambil dari uraian diatas adalah bahwa ternyata manusia ini bebas, manusia ini tidak dipaksa-paksa. Tuhan dalam menentukan aturan-aturan tidak melupakan fitrah manusia, yaitu kebebasan.Kalau Allah saja tidak memaksa, maka pantaskah manusia memaksa sesama manusia? Tentunya tidak.”Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yg ada di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa supaya mereka beriman semuanya?” (QS. Yunus : 99).
Lantas apa kewajiban kita terhadap sesama manusia ? Tugas kita hanyalah menyampaikan kebenaran dan mengingatkan saja. Apabila diterima atau ditolak, itu terserah pada yg bersangkutan. Firman Allah Swt. : “Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yg memberi peringatan”. (QS. Al Ghasyyah : 21).

Juga sebaliknya, andaikata ada orang lain memberikan teguran, kritik dan lain-lain kepada kita, maka kitapun harus menerimanya dengan lapang dada/hati. Sebab, hal ini bukan tanda kebencian, tapi justru bukti berkawan yg sebenarnya. Kesanggupan menerima kritik ini termasuk ciri orang-orang yg berjiwa besar, dan juga termasuk ciri orang-orang beriman.
”Sesungguhnya orang-orang yg beriman kepada ayat-ayat Kami, adalah orang-orang yg apabila diperingatkan dengan ayat-ayat (Kami), mereka sujud dan bertasbih serta memuji Tuhannya, sedangkan mereka tidak menyombongkan diri”. (QS. As Sajdah : 15).
Dengan hidupnya suasana saling mengingatkan semacam ini, terbukalah kemungkinan kita termasuk orang-orang yg tidak rugi (yang beruntung). Seperti firman Allah : ”Demi waktu, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keadaan rugi; kecuali orang-orang yg beriman dan mengerjakan amal yg shaleh, serta nasehat-menasehati dengan kebenaran dan dengan kesabaran”. (QS. Al ’Ashr : 1-3).

Bagaimana tanggapan kita, jika orang lain itu sudah kita ingatkan tetap saja melakukan kesalahan? Kita bertawakal kepada Allah. Dosa ditanggung mereka yg melakukan kesalahan. Seseorang tidak memikul dosa yg dilakukan oleh orang lain.
”Katakanlah : ’Kamu tidak akan ditanya (tidak akan bertanggung jawab) tentang dosa yg kami perbuat, dan kami tidak akan ditanya (tidak akan bertanggung jawab) tentang dosa yg kamu perbuat”. (QS. Saba : 25).

2). Hanif
”Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yg telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah’ (itulah) agama yg lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (QS. Rum : 30).
Hanif artinya : kecenderungan dan kerinduan kepada yg serba agung, mulia dan suci (yg benar, yg baik, indah, adil, lurus). Manusia pada kodrat dan fitrahnya mencintai kebaikan dan cenderung kepadanya. Tidak ada manusia yg mencintai kejahatan dan cenderung kepadanya.
Kalau ternyata, ada yg berbuat jahat, sebenarnya dalam pribadinya saat itu sedang terjadi pro & kontra. Apa yg sedang diperbuatnya tsb, sebenarnya tidak sesuai dengan hati nuraninya. Ketakaburan dan gengsinyalah yang membuat orang sulit bersedia mundur dari perbuatannya yg salah. Tidak mau minta maaf bila khilaf (sombong, egois, takabur, dhalim dll), tidak mempan nasihat (merasa benar sendiri, akulah yg paling tahu dan benar) dan lain sebagainya. Itulah dia manusia yang menutup diri dan menutup hatinya. Mereka amat rendah dalam pandang Allah.
”Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia; mereka mempunyai hati tapi tidak dipergunakannya, mereka mempunyai mata tapi tidak dipergunakannya untuk melihat,mereka mempunyai telinga tapi tidak digunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagaikan binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yg lalai”. (QS : Al A’raaf : 179).

Ada sebuah contoh tentang orang-orang semacam ini. Tiga orang kafir Quraisy yg memusuhi Islam : Abu Sofyan bin Harb, Abu Jahl bin Hisyam dan AL Alhnas bin Syaniq secara sendiri-sendiri pada suatu malam datang menyelinap ke sekitar rumah Nabi Muhammad Saw. Hal ini mereka lakukan karena mendengar kabar bahwa Muhammad memiliki syair-syair yg sangat indah dan menawan. Mereka ingin mendengarkannya. Rupaya yg mereka sangka syair itu tidak lain adalah ayat-ayat suci Al Qur’an yg dibaca Nabi Muhammad Saw. tiap malam. Suaranya yg tenang dan ringan itu bergema kedalam telinga dan kalbu, termasuk kepada tiga begundal Quraisy tersebut. Setelah puas mendengar suara Muhammad, masih sendiri-sendiri, mereka pulang. Tanpa disengaja, ternyata mereka saling bertemu dipersimpangan jalan. Lalu mereka saling menyalahkan. ”Jangan terulang lagi ! Kalau kita dilihat oleh orang-orang yang masih bodoh, ini akan menjatuhkan dan melemahkan kedudukan kita dan mereka akan berpihak kepada Muhammad”.

Namun janji mereka tak dapat mereka tepati. Keinginan untuk menikmati suara Nabi dan kebenarannya, tak dapat ditahan-tahan. Malam berikutnya, mereka datang lagi sendiri-sendiri. Dan saling bertemu lagi. Juga malam yang ketiga, kejadian yg sama terulang kembali. Akhirnya mereka benar-benar bertekda untuk tidak datang lagi ke rumah Nabi.
Inilah cerita tentang manusia-manusia yang tak mau menerima kebenaran hanya karena gengsi. Ketiga orang tersebut walaupun yakin Muhammad Saw. datang membawa kebenaran, tapi tidak mau mengakuinya. Inilah contoh manusia-manusia kardus yang tolol dan sombong lagi sesat.
Masih tentang gengsi ini, ada contoh lain yang menarik, dari sisi yg baik. Pada awal sejarah Islam, Umar bin Khattab adalah seorang penentang utama Muhammad yang keras dan gigih. Salah satu sifatnya, waktu itu adalah suka sanjungan dan pujian. Suatu ketika ia sesumba bahwa ia akan menghunus pedangnya dan memenggal leher Nabi Muhammad Saw.. Orang-orang kafir Quraisy kegirangan dengan adanya tekad Umar ini. Mereka berpegang kepada adat, bahwa jika pedang telah terhunus maka pantang untuk disarungkan kembali sebelum berlumuran darah. Karenanya, hampis pasti Muhammad akan tamat riawayatnya. Dalam perjalanan menuju tempat kediaman Muhammad, Umar mendengar dari temannya bahwa ternyata adiknya sendiri telah menjadi pengikut Muhammad. Dengan wajah memerah bak buah apel dengan sangat berang ia seakan-akan terbang melayang ke udara kembali ke rumah. Sampai di rumahnya, adiknya sedang membaca ayat-ayat suci Al Qur’an. Umar tertegun dan terpana. Begitu indah dan mencekam, mempesona dan mengharukan. Sedikit demi sedikit hati Umar lumer dan terbuka. Hingga akhirnya dengan rasa haru yang mendalam, dia mencari Rasulallah. Bukan untuk memenggal lehernya, tapi untuk mengikuti jejak risalah yang dibawanya. Sejak saat itu kedepan, Umar menjadi pembela Islam yang gagah perkasa.
Itulah contoh manusia yang mau mengalahkan gengsinya untuk kebenaran. Dihadapan teman-temannya dulu, gengsi kepahlawanannya turun drastis. Tapi tidak apa-apa, yg penting hati nurani terpuaskan.

Sekali lagi, pada dasarnya, manusia cenderung kepada kebaikan. Dengan demikian andai kita menghadapi orang-orang yg sangat sulit diajak mengerjakan kebaikan, maka kita tidak boleh marah atau putus asa. Sebab mereka bukanlah orang-orang jahat, hanya mungkin belum tahu. Itulah sebabnya, tidak ada kata berhenti da’wah sampai kapanpun, untuk mengajak dan mengingatkan manusia ke jalan yg baik dan benar.
3) Manusia Adalah Makhluq Individu Yang Bermusyawarah
Sudahlah pasti dan dapat dimaklumi, bahwa seorang manusia tidak mungkin bisa hidup tanpa berhubungan dengan orang lain. Dalam banyak hal, bahkan seorang manusia merupakan perwujudan dari masyarakat itu sendiri. Misalnya ialah ketika ia bertindak sebagai pencuri (korupsi). Saat tersebut, menurutnya dia dapat menguntungkan dirinya. Tapi jika dilihat dari sisi masyarakat, ternyata masyarakat dirugikan sangat banyak, baik ketentraman maupun kepercayaan lingkungan sekitar terhadap dirinya yang mulai rapuh.Dalam hidupnya manusia mempunyai dua jalur hubungan (komunikasi), yakni hubungan dengan Tuhan (habluminallah) dan hubungan dengan sesama manusia (habluminannas). Sebenarnya, keduanya merupakan satu kesatuan.

Berikut saya uraikan satu persatu agar mudah mebahasnya.
1). Hablumminallah
Hablumminallah adalah hubungan dengan Allah. Bentuk hubungan seorang manusia dengan-Nya ialah ibadah-ibadah khusus, yang cara-caranya sudah ditentukan.Dalam hubngan ini, ada dua macam hal yg perlu diketengahkan :
i). Peribadatan yg dilakukan manusia sebagai individu. Sering disebut sebagai wajib ’ain. Contohnya shalat, puasa ramadhan dan lain-lain.
ii). Peribadatan yg dilakukan oleh manusia sebagai sebuah kelompok, sebagai suatu kesatuan masyarakat.
Sering disebut wajib kifayah. Bila suatu kewajiban sudah dilakukan oleh satu atau beberapa anggota masyarakat, maka kewajiban itu telah dipenuhi. Jika tak ada yang melakukan, maka dosanya ditanggung seluruh anggota masyarakat tersebut.
Manusia lahir ke dunia sebagai individu dan kembali menghadap Allah sebagai individu pula. Artinya ialah segala perbuatan dan tingkah lakunya di dunia ini harus dipertanggungjawabkannya sebagai pribadi.
”Barang siapa yg mengerjakan amal shaleh maka (pahala-pahala) untuk dirinya sendiri dan barang siapa berbuat jahat maka (dosanya) untuk dirinya sendiri. Dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamban (Nya)”. QS. Fushshilat : 46).
”Hai manusia bertaqwalah kepada Tuhanmu dan takutlah suatu hari yg (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu dalam mentaati Allah”. (QS. Luqman : 33).

2). Hablumminannas
Hablumminannas ialah hubungan antar manusia. Hubungan antar sesama manusia ini sering diungkapkan dalam bentuk aturan-aturan kehidupan (hukum-hukum kemasyarakatan). Hukum Allah ditetapkan oleh Allah sendiri, sedangkan hukum antar sesama manusia ini ditetapkan atas kesepakatan bersama. Munculnya hukum ini boleh atas persetujuan formal, boleh tidak; boleh tertulis, boleh pula tidak tertulis. Sudah barang tentu, hukum buatan manusia ini tidak diperkenankan bertentangan dengan hukum Allah untuk manusia.
Khusus untuk hukum antar manusia, metoda musyawarah merupakan hal yg disukai Allah.
”Dan (bagi) orang-orang yg menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawrah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka”. QS Asy Syuura : 38).
Hukum sesama manusia antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain sangat mungkin untuk berbeda. Hukum ada/aturan daerah Minangkabau berbeda dengan di Pulau Jawa. P. Jawa sendiri berbeda dengan Aceh. Tiap suku bangsa, memiliki adat yang khas. Dalam wilayah yang lebih luas, undang-undang berbagai negara juga berbeda. Di negara kita ada undang-undang pemberantasan anti korupsi, undang-undang ketenagakerjaan, undang-undang lingkungan hidup, undang-undang pengelolaan sumber daya alam, undang-undang Pornographi/aksi dan lain sebagainya. Mungkin timbul pertanyaan2 : “Mana yg paling benar di antara hukum-hukum manusia itu?” Jawabannya : kita bandingkan dengan hukum Allah. Andaikan tidak bertentangan, dia benar. Jika tidak sesuai dengan hukum Allah, dia salah.
Sekarang, bagaimana dengan peranan Islam dalam memberikan aturan yg bersifat universal bagi dunia? Ajaran Islam dalam mengatur kehidupan manusia hanya memberikan peraturan-peraturan yg umum (yg besar-besar), yang masih memungkinkan manusia untuk berkreasi. Tentu saja dalam hal-hal tertentu, beberapa masalah diperhatikan agar detail, seperti misalnya persoalan harta waris dan lain-lain. Contoh dari peraturan-peraturan yang umum ini ialah tentang pakaian. Islam tidak menentukan modenya, apalagi warnanya. Tapi kriteria umum diberikannya : harus menutup aurat (bagi wanita : seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan), indah dan sesuai dengan keperluan.
Perlu dicatat, bahwa hak manusia untuk berkreasi ini hanya pada masalah-masalah hubungan antar manusia, itupun tidak seluruhnya. Hubungan manusia dengan Allah secara khusus sudah diaturNya, tak dapat diganggu gugat.
Dalam komunikasi dengan manusia. Allah tidak selalu menunjuk manusia sebagai individu, tetapi juga manusia sebagai anggota kesatuan masyarakat. Berikut contohnya :
“Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yg tidak khusus menimpa orang-orang yg zalim diantara kamu. Dan ketahuilah bahwa siksa Allah amat keras”. QS. Al Anfal : 25).

3). Manusia Makluq Pengabdi
“Dan bila manusia disentuh oleh suatu bahaya, mereka menyeru Tuhannya dengan kembali bertaubat kepada-Nya; kemudian bila Tuhan merasakan kepada mereka barang sedikit rahmat daripadaNya, tiba-tiba sebagian dari mereka mempersekutukan Tuhannya”. (QS. Ar Ruum : 33).
“Dan bila mnusia ditimpa bahaya dia berdo’a kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalan yang sesat) seolah-olah dia tidak pernah berdo’a kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yg telah menimpanya”. (QS. Yunus : 12).
Dan beberapa ayat Qur’an yg lain, mengatakan hal yg sama : bahwa pada dasarnya manusia makhluq yg lemah tapi bandel. Dikala ia susuah, ia mengeluh dan mohon pertolongan pada yg lebih perkasa. Jika suka datang, dia lupa lagi pada yang dimintai tolong.
Makhluq pengabdi artinya makhluq yg senantiasa memerlukan pertolongan dan bantuan dari sesuatu yang lebih tinggi, dan ia rela melakukan apapun asal bantuan tersebut didapatkannya. Seringkali manusia salah kaprah dan keliru mengarahkan permintaan bantuannya itu. Yang penting baginya ialah sesuatu yang tinggi dan berkuasa itu mampu menguasai hidupnya. Sebagai misal, sebagai penduduk pantai selatan pulau jawa yakin betul bahwa Nyai Loro Kidullah yg menguasai hajat hidup mereka. Hingga mereka mau melakukan perintah-perintahnya,mau mengabdi pada sang Nyai. Di pedalaman, Dewi Sri lah yang dianggap menguasai panen padi tiap tahun hingga para penduduk mengabdi padanya. Kalau tidak, maka pastilah tiap panen padi tentu akan selalu gagal, dan akan sengsaralah mereka.

Itu semua terjadi karena pola pikir yang picik (bukan picek/buta, kali picek/buta yaitu orang gak lihat, tapi kalau bicara melebihi orang yang bisa melihat, sok tahu).Siapa sebenarnya yg menguasai lautan dan padi?
Itulah sifat manusia : ingin mengabdi pada sesuatu. Kalau fitrah ini salah mengarah, maka iapun binasa. Allah sudah menerangkan bagaimana seharusnya bertindak :
“Aku tidak semata-mata menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (QS. Adz Dzariyat : 56).
Sebenarnya, menurut ayat diatas itu, mengabdi dan menyerahkan diri pada Allah tidaklah sangat berat. Tinggal mengarahkan potensi mengabdi ini pada Allah saja.

4). Manusia Ciptaan Yang Terbaik
Firman Allah :
“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkat mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rizki dari yg baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yg sempurna atas kebanyakan makhluq yg telah Kami ciptakan” (QS. Israil : 70).
“Sesungguhnya Kami menjadikan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (QS. A Tiin : 4).
Ketinggian sifat manusia ini terlihat pada waktu semua malaikat diperintah Allah untuk sujud kepada Adam (Bapak manusia). Juga mereka mengakui kepandaian manusia.

Malaikat, yang dikenal sebagai makhluq pengabdi Allah yang sempurna, derajatnya masih dibawah manusia yang patuh pada Allah. Sebabnya ialah manusia memiliki hawa nafsu yang senantiasa mengusik manusia untuk melanggar perintah-perintahNya. Andai seseorang berhasil mengalahkan hawa nafsunya, maka ia naik tingkat yang sangat tinggi. Malaikat tidak memiliki nafsu, dengan demikian ia pasti menurut pada Allah, tanpa usaha dari dalam dirinya. Jadi mudah dipahami, manusia sangat mungkin mengungguli malaikat.
Jika seorang tak dapat mengalahkan nafsunya, bukan saja ia tak dapat menyamai malaikat, tapi malah ia meluncurkan dirinya ke tingkat yg serendah-rendahnya.
Dengan makhluq yg lain manusia lebih tinggi, lebih terhormat. Dengan sesama manusia, kedudukan hak, kewajiban dan derajatnya sama. Ada presiden, ada gubernur, ada bupati, ada camat, ada guru, ada Ketua RT, tukang becak, tukang pemulung hanyalah pembagian tugas saja. Tidak berhak yang satu menindas yang lain, yang satu lebih tinggi dari yg lain.

5). Manusia Khalifah di Muka Bumi
Firman Allah Swt. : “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat : ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi …………..” (QS. Al Baqarah : 30).
Khalifah artinya wakil, khalifah Allah berarti wakil Allah. Dengan fitrah-fitrah yang telah saya uraikan diatas dan melaksanakannya, maka pantaslah manusia menyandang predikat sebagai khalifah Allah.Sesuai dengan fungsinya ini (khalifah) di bumi, maka oleh Allah telah ditundukkanlah segala makhluq yang lain kepada manusia.
Demikianlah, betapa mulia manusia bila dibanding dengan makhluq yg lian. Sebenarnya ini juga memberi beban pada kita untuk mempertanggungjawabkan amanah ini, Allah Swt berfirman :
“Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibirkan begitu saja (tanpa tanggung jawab)?” (QS. Al Qiayam : 36).
Andaikata manusia tak dapat menjalankan amanah khalifah ini dengan baik, maka bukan saja akan disiksa, tapi lebih jauh lagi akan dibinasakan, dan diganti dengan makhluq yg lain.“Jika Dia menghendaki, niscaya Dia membinasakan dan mengganti (mu) dengan makhluq yg baru” (QS. Ibrahim : 19).
***Didalam diri manusia yang telah dewasa terdapat tiga unsur daya jiwa, yaitu Akal, Rasa, dan Iman. Antara rasa dan akal sering timbul ketegangan2, konflik-konflik, pertentangan-pertentangan dan ketidak sepakatan. Tiap kali hal tersebut terjadi, iman bertindak sebagai wasit, pendamai.Manusia dalam hidupnya selalu mencari tiga hal, yaitu : i). Keindahan ii). Kebenaran, iii). Kebaikan dan keadilan. Keindahan dicari manusia mellaui bidang seni, yakni bidang yang menonjolkan unsur rasa. Kebenaran dicari manusia melalui ilmu pengetahuan, yang untuknya dibutuhkan akal. Sedangkan kebaikan dan keadilan hanya dapat ditemukan dalam bidang agama, dan untuknya dibutuhkan iman.Manusia bisa hidup bahagia seandainya ia telah mampu membentuk perpaduan yg harmonis antara ketiga daya jiwa tersebut, dimana tak ada satu daya jiwa mendominasi daya jiwa yg lain.Menyeimbangkan peran ketiga daya jiwa ini bukanlah pekerjaan mudah. Bahkan disinilah salah satu kelemahan manusia yang penting.

Seseorang yg terlalu banyak menggunakan potensi rasa tanpa diimbangi dengan kemajuan akalnya, pasti mengalami benturan-bentuan dalam hidup keruhaniannya. Ia akan cepat menangkap isyarat-isyarat alam, lalu mengambil kesimpulan tanpa mengolahnya lebih dahulu. Salah satu akibatnya ialah kekagumannya yang luar biasa terhadap sesuatu yg ia anggap besar dan mampu mengalahkannya. Aliran pantheisme (aliran yg mempertuhankan sesuatu yg dianggap luar biasa) lahir dari manusia-manusia macam ini. Ia mempertuhankan gunung yg megah, matahari yang memberikan energi kepada semua makhluq bumi, lukisan yang sangat indah, hasil seni yang memukai dan lain-lain.
Orang yg hanya mampu menggunakan akalnya saja dengan menyampingkan rasa, maka akan sampai kepada Agnotcisme (aliran yang tak sanggup membuktikan bahwa Tuhan itu ada, juga bahwa Tuhan itu tidak ada). Makin parah lagi dari penggunaan akal yang tidak sehat ialah Atheisme (tidak percaya tuhan).

Ajaran Islam menautkan kedua daya jiwa tersebut dengan menampilkan unsur yg ketiga, yaitu Iman. Seseorang muslim wajib menghaluskan rasa (ikhsan, ikhlas, akhlaq dan dzikir), menajamkan otak (ilmu, tafakur) dan menebalkan iman (tauhid, taqwa, ibadah).
Al Qur’an sebagai inti ajaran Islam adalah penggetar temali rasa yang paling halus, pengasah otak yang paling tajam, dan penyegar iman yg paling efektif. Allah berfirman :
”Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bmi, dan silih berganti malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langin dan bumi (seraya berkata) :
”Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (QS. Ali Imran 190-191).
Terlihat dari ayat tsb, ada dua realita pengalaman manusia : realita tafakur (akal) dan realita dzikir (rasa). Keduanya digabungkan dan lahirlah keimanan yang tangguh. Inilah dia Insan Kamil (manusia sempurna), yang seimbang akal, rasa dan imannya. Perasaannya halus, akalnya tajam, imannya kuat.

Rasa yg halus membawa sikap menghargai, menikmati dan mencintai keindahan serta kerapihan. Akal yg tajam membuat seseorang peka dan mampu membedakan mana yg benar dan salah, menolak yang tak masuk akal, menghargai logika, menuntut kebenaran. Iman yg kuat mendorong manusia berubah menjadi aktif dan dinamis, menimbulkan rasa aman dalam diri dan sekitar, dan bergerak terus kedalam kebaikan dan keadilan.
Terpenuhinya ketiga kebutuhan tsb adalah tanda bahwa seseorang telah berhasil membawa missinya, dan dialah yang berhak disebut insan kamil.
Sumber : Wallahu’alam - im_surya_1998@yahoo.co.id
ABgroup Corporate

0 komentar: